Program Studi Tadris Biologi FTK UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tema “Mengubah Limbah Nanas Menjadi Berkah: Pembuatan Briket sebagai Energi yang Berkelanjutan Menuju Desa Mandiri” pada Kamis, 29 Mei 2025, bertempat di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.
Kegiatan ini diketuai oleh Suraida, M.Si., dan dihadiri oleh 30 peserta dari masyarakat setempat, serta 21 dosen dan 5 mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana. Kegiatan bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan dan ekonomi lokal, khususnya dalam pemanfaatan limbah nanas menjadi energi alternatif.
Tangkit Baru dikenal sebagai sentra produksi nanas terbesar di Provinsi Jambi. Dengan luas lahan perkebunan mencapai sekitar 1.000 hingga 1.200 hektar. desa ini juga mengembangkan Agrowisata Nanas sebagai daya tarik wisata. Namun, tingginya produksi nanas juga menimbulkan persoalan lingkungan. Sampah sisa panen seperti bonggol dan daun nanas kerap menumpuk di pinggir jalan, membusuk, dan menimbulkan bau tak sedap serta mencemari pemandangan sekitar.
Dalam sambutannya, Kaprodi Tadris Biologi Reza Ma’ruf, M.Pd., menyampaikan bahwa pemilihan Desa Tangkit Baru sebagai lokasi pengabdian bukan tanpa alasan.
“Pengabdian ini merupakan upaya konkret untuk memadukan ilmu biologi dengan kepedulian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Kami melihat Desa Tangkit Baru memiliki potensi besar, salah satunya adalah wisata edukasi perkebunan nanas yang menjadi sumber pendapatan masyarakat. Namun potensi ini perlu dikelola secara berkelanjutan, termasuk dari sisi limbahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tangkit Baru yang diwakili Sekretaris Desa Sirajudin, S.Hum mengungkapkan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas dipilihnya desa mereka sebagai lokasi kegiatan.
“UIN sudah tidak asing bagi kami. Orang tua kami, kami sendiri, bahkan anak-anak kami banyak yang kuliah di UIN. Masalah utama kami adalah limbah nanas yang mencapai sekian ton per hari. Selama ini kami sudah mencoba memanfaatkannya menjadi pupuk dan serat, namun terkendala dana dan alat. Kami berharap kegiatan ini membantu kami mengatasi masalah limbah serta menambah pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan inti berupa sosialisasi dan pelatihan pembuatan briket dipandu langsung oleh tim dosen dan mahasiswa. Masyarakat diajarkan bagaimana mengolah limbah nanas, mulai dari pencacahan, pengeringan, pencampuran bahan, hingga pencetakan briket secara sederhana namun aplikatif.






Antusiasme masyarakat terlihat dari interaksi aktif selama sesi pelatihan. Beberapa warga menyatakan ketertarikannya untuk menjadikan briket limbah nanas sebagai produk usaha rumahan yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan brosur pelatihan dan briket siap pakai kepada seluruh peserta sebagai bentuk keberlanjutan program. Diharapkan, pengabdian ini dapat menjadi langkah awal menuju desa mandiri energi yang berwawasan lingkungan dan berdaya saing, sekaligus menjadi contoh konkret penerapan ilmu biologi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

